Jumat, 16 Desember 2011

Tegal Buleud: Tak Hanya Sekadar Tujuan

Tegal Bulued

Tegal Buleud, mungkin nama ini masih asing bagi para wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, karena memang daerah ini belum menjadi daerah wisata yang terekspose secara luas. Akan tetapi, tidak berarti Tegal Buleud tidak layak menjadi suatu referensi tempat rekreasi sekadar pelepas penat dari kesibukan yang bikin mumat.

Tegal Buleud merupakan daerah pantai dengan pasirnya berwarna hitam. Takperlu jauh mendekat ke bibir pantai menikmati pantainya karena menyaksikan pemandangan hamparan pantai yang luas itu lebih indah dari atas bukit pasir yang berada sekitar 500 meter dari bibir pantai. Dari bukit pasir ini akan terlihat pemandangan pantai yang tampak samar karena terhalang embun biasan air laut. Dan tidak jarang dua sampai tiga ombak terlihat berkejaran bersamaan menuju bibir pantai.

Selatan Sukabumi. Siapa yang tidak mengenal daerah ini yang penuh dengan pantai? Tegal Buleud termasuk salah satu pantai dari kawasan ini. Perjalanan menuju Tegal Buleud dapat dilakukan melalui darat dengan kendaraan bermotor ataupun melalui sungai dengan menggunakan perahu. Tentunya untuk menambah kelengkapan rekreasi, perjalanan melalui sungai sangat menjadi rekomendasi.

Desa Bojong Gede menjadi sebuah desa perlintasan pertama menuju Tegal Buleud

Kamis, 01 Desember 2011

Melihat Diri


Saya berpikir keras saat ini, bagaimana (mungkin) ketika suatu niat, mental berbuah yang tidak diniatkan sama sekali bahkan amat tidak diinginkan. Pemberitaan tentang tewasnya seorang pemuda di sebuah café membuat konkret pada pikir. Tentu bukan ini yang diharapkan seseorang ketika mendatangi sebuah café. Lalu saya mencoba beradu pikir.
Munculnya tanya “bagaimana (mungkin)” tentu merupakan hal yang wajar sebagai sebuah ungkapan kepenasaranan. Kemudian ketika tanya itu tertuju pada yang bukan kuasa manusia, jawabnya tentu ‘mungkin saja’ karena apa yang tidak mungkin dari segala kehendak-Nya?
Di luar pembahasan tentang Yang Satu, saya tidak sedang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa ini. Akan tetapi, yang jelas –di sini--  ada korban dan pelaku. Setelahnya tinggal rasa percaya hendak dititipkan ke siapa. Toh, fakta telah menjadi sejarah dan kebenaran sejarah dipegang oleh pelaku sejarah. Dalam hal ini, kedua pihaklah yang berperan sehingga tidak tertutup kemungkinan sedikitnya ada dua versi cerita (fakta).
Pengakuan salah seorang dari kelompok salah satu pihak jelas mengatakan bahwa keduanya memang “minum”. Hal ini bisa saja mengasumsikan bahwa keduanya sedang tidak dalam kesadaran penuh. Ada kesadaran lain yang membuat mereka kehilangan sedikit “mereka”. Jika asumsi ini benar, yang berwenang tentu lebih tahu tentang penyelesaian.
Hanya saja, yang sangat disayangkan adalah suatu niat berubah menjadi akibat yang kelewat. Kemudian melahirkan banyak tanda tanya. Mengapa harus ke café? Mengapa harus “minum”? Mengapa begitu mudah emosi meluap yang merajuk kalap?
Terlepas dari proses adil-mengadili, evaluasi tentu bernilai tinggi dari peristiwa ini. Bahwa semua pihak harus ambil bagian agar tidak (akan dan/atau lagi) turut mengalami dituntut di sini. Ke sampingkan dulu tentang usia dengan pergaulannya, orang tua dengan pengawasannya, serta pemilik usaha dengan kebertanggungjawabannya. Bukankah lebih mulia untuk mengintrospeksi diri dan mampu belajar dari hal di sekitar?
Jangan biarkan esensi dari apa yang akan dilakukan bertransformasi menjadi eksekusi ngeri. Oleh karena itu, perlu dilihat ketepatan dalam hal tempat dan waktu, setidaknya salah satu. Semoga taklagi ada yang turut ini jejak.